CEO-nya Cabut, Investor Nyerah: Ada Apa dengan Intel?

Table of Contents

CEO Intel cabut

 Bayangin kamu punya perusahaan yang dulunya dianggap dewa teknologi, pionir, jagoan, penguasa.

Semua orang pakai produk lo, dari PC rumahan sampai server gedean punya kampus dan korporasi. Tapi tiba-tiba… lo mulai ditinggal.

Investor mulai ragu. Bahkan CEO lo sendiri—yang harusnya jadi juru selamat—malah kabur. Inilah yang terjadi sama Intel.

Yes, Intel. Raja prosesor yang dulu dielu-elukan, sekarang malah bikin banyak orang garuk-garuk kepala. Kok bisa?

Dulu Raja, Sekarang Ketinggalan Kereta

Intel pernah begitu dominan di dunia prosesor. Nama besar mereka identik dengan PC berkualitas.

Tapi sejak era 2010-an, angin mulai berubah. Para kompetitor seperti AMD dan Apple mulai menyalip dari kanan-kiri.

AMD datang dengan arsitektur chiplet dan efisiensi daya yang bikin para gamer dan kreator konten kesengsem.

Sementara Apple? Mereka main di liga sendiri dengan M-series mereka yang gila hemat daya tapi performanya brutal.

Dan apa kabar Intel?

Mereka stuck di teknologi 14nm bertahun-tahun. Padahal kompetitor udah main di 7nm bahkan 5nm.

Transisi teknologi yang gagal total, ditambah keputusan bisnis yang enggak visioner, bikin Intel bukan cuma stagnan, tapi mundur selangkah demi selangkah.

Sang Juru Selamat: Pat Gelsinger

Tahun 2021, muncullah satu nama: Pat Gelsinger. Mantan CTO Intel yang sempat sukses besar di VMware ini ditarik balik ke rumah lamanya. Harapannya jelas: nyelametin Intel dari keterpurukan.

Pat datang dengan semangat baru. Dia bangun kembali fondasi R&D, dorong produksi dalam negeri AS lewat program IDM 2.0, bahkan berani invest triliunan dolar buat bikin pabrik chip modern. Tapi... ternyata jadi juru selamat itu nggak gampang.

Duit Terbakar, Investor Kabur

Untuk bangun pabrik chip canggih, Intel butuh modal gede. Pat nekat ambil jalur capital-intensive.

Hasilnya? Di atas kertas, Intel kelihatan ambisius. Tapi di dunia nyata, angka di laporan keuangan merah merona.

Investor mulai gelisah. Saham anjlok. Beberapa bahkan angkat tangan dan cabut. Dan seperti judul sinetron, “Luka Lama Terulang Kembali,” Pat Gelsinger pun terlihat... lelah.

Kabarnya, dia malah jual sebagian sahamnya sendiri di tengah krisis ini. Pesan yang tersirat? Bahkan CEO-nya sendiri udah mulai kehilangan harapan.

Apple dan Nvidia

Yang bikin makin nyesek, perusahaan-perusahaan yang dulu numpang lewat di belakang Intel sekarang malah jauh di depan. Apple sukses banget dengan chip bikinan sendiri.

Nvidia, yang dulu cuma "pemain VGA", sekarang malah jadi raja AI dan data center.

Intel? Masih sibuk beresin PR.

Padahal kalau mereka dulu lebih cepat pivot dan nggak terlalu nyaman dengan posisi dominannya, mungkin ceritanya beda. Tapi ya, seperti kata pepatah, “kalau udah nyaman, biasanya jadi bebal.”

Masih Ada Harapan?

Pertanyaannya: apakah Intel udah tamat?

Belum tentu. Di dunia teknologi, bangkit itu selalu mungkin. Tapi butuh lebih dari sekadar semangat.

Butuh keputusan gila, pemimpin yang nekat, dan—yang paling penting—kesediaan buat jujur ngaku salah dan berubah.

Pat Gelsinger sudah mencoba. Tapi kalau dia sendiri udah nggak yakin, lalu siapa lagi?

Penutup: Belajar dari Intel

Cerita Intel adalah cerita tentang betapa cepatnya dunia berubah. Tentang gimana dominasi hari ini bisa jadi beban besok. Dan tentang pentingnya nggak terlena oleh kejayaan masa lalu.

Mungkin lo bukan CEO, bukan investor, apalagi engineer chip. Tapi lo pasti pernah ngerasain gimana rasanya ditinggalin karena lo terlalu nyaman.

Jadi ya, sebelum dunia berubah dan lo ketinggalan, ada baiknya nanya ke diri sendiri: “Gue udah berubah belum?”

Posting Komentar